
Diatas kesadaranya, dia telah berdiri dengan kesunyiaan yang terdalam karena kekagumannya melihat taman yang sangat menenangkan didepannya. Taman itu memang tempat sangat bermakna untuk dirinnya ditambah musim gugur yang disenangin dari empat musim yang ada dinegara ini. Mungkin hanya keheningan yang dapat membantunya untuk menikmati keindahan daun-daun coklat keorangean berjatuhan ditaman itu,memang sangat indah tapi ada satu makluk yang bersama dengan Tania yang sangat tak bisa menikmati musim gugur, apalagi berhubungan dengan taman itu adalah hal yang sangat mebosankan untuknya.
“Tania..?? kamu lagi kerasukkan yah, karena loe udah berdiri dan berdiam diri kaya patung cantik yang menghiasi taman ini, sekaligus loe gk sadarnya gw ada disini sama loe, ditambah gw udah digigit nyamuk..”vanie dengan tak sabarnya ngerocos semua ketidaknyamanannya.
Tapi sayangnya Tania tidak merespond apapun, seakan menikmati sesuatu didunianya sendiri, dan itu agak spooky untuk vanie yang sudah tak nyaman ditambah takut lagi..
“NIAaa…” dia agak berteriak kecil ketelingannya dan melambaikan tanganya didepan wajahnya tania untuk mebuyarkan lamunanya yang entah sudah berlabu dipulau mana.
“ya…yaya.” Jawabnya dengan terbata-bata karena terkejut dengan teriakkan kecil Vanie.
“arrgggg… niaaa!! Gw udah digigit nyamuk nih tungguin loe dari tadi, gw panggilin egak dengar, gw ajak ngmong juga egak disangkau, loe kenapa si neng jeulis?? Loe tahu kan gw gak suka taman, apalagi taman yang kaya gini, agak angker buat gw..” Vanie memang seorang yang sangat hyper, kalau udah ngomong egak ada kata buatnya untuk berhenti, tapi itulah yang membuat Tania sangat senang berteman dengan cewek yang penuh dengan semangat dan tawa canda ini.
“hahaha… maafin gw van, gw gk sadar loe ada dibelakang gw. Tapi kalau loe mau pulang dulu gk apa-apa kok gw bakalan nyusul dari belakang, gw masih mau menikmati taman ini..” senyum manis termulas diwajah Tania yang sangat manis.
Tapi muka vanie sangat masam terulas diwajahnya karena dia merasa percuma aja dia sudah menemaninya dengan happynya eh malah tania tak menyangkaunya saat dia berada ditempat yang sangat tak disenanginnya.
“ok gw cabutnya, loe hati-hatinya, dahh..” vanie menempuk pundak Tania sebagaimananya seorang sahabat mengatakan kalau dia perduli..
Taman itu semaki sunyi dengan kepergian Vanie, namun hal itu tak membuatnya takut sebaliknya Tania menikmatinya dengan sangat senang hati.
Kumenikmati berada ditaman ini, daun-daun coklat yang berjatuhan dari pohon seakan menghujanin ku dengan kenyamanan dan kedamain yang tak dapat kudapatkan dari tempat manapun. Taman ini seperti surga untukku saat musim gugur tiba, daun-daun yang berjatuhan ini akan menghasilkan daun-daun yang hijau dan sehat pada musim semi nanti. Seperti satu pedoman hidup dimanan banyak hal-hal yang indah yang harus kita lepas dalam hidrp ini dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih indah lagi.
Tania menari-nari dengan bebas, tangannya terulai dengan lembut menyetuh daun-daun yang sedang bertaburan diudaran, sambil menghirup udara yang segar, dia merasakan keindahan yang tak dapat terlampaui dari semua didunia ini.
“Tania…” seseorang memanggilnya dengan lembut
Tania melihat kebelakang dengan rasa yang berkecamuk dalam hatinya, seakan dia takut atu terkejut ataupun bingung karena jarang orang yang datang ketaman ini dan mengenal tania, apalagi memanggil namanya. Tapi, tak disangka olehnya suara itu berasal dari Andre, cowok yang sempat singgah dalam hatinya. Tapi itu adalah masa lalu mereka, semenjak dua tahun yang lalu mereka tak pernah bertemu ataupun chating dan smsan pun mereka tak pernah lagi; dikarenakan Tania meminta untuk berhenti dengan hubungan mereka. Sesungguhnya andre tak ingin melepaskan Tania dari hidupnya saat itu tapi waktulah yang menghapus kisah diantara mereka.
“Taniaa..??” andre memberanika diri untuk mendekat kearah tania yang sedari tadi tidak
menyangkaunya ataupun tersenyum.
“Andreee? Kamu….kamu sedang apa kemari” Tania merasa ada sesuatu yang yangkut ditenggorokannya.
“sorry kalau aku ganggu kesendirian kamu ditempat ini, karena tak sadar aku juga sedang ingin bermain ketempat ini. Sudah dua tahun aku pergi dari kota ini dan merantau kenegri lain, jadi tak salah aku ingin meingant masa-masa yang telah lampau meski itu tak mungkin terjadi lagi..”
Kata-kata andre membuat Tania mengingat kebelakang saat dia duduk dibangku kelas 1SMA sedangkan andre sudah kelas 3SMA, mereka satu sekolah dan itu yang memberikan mereka peluang untuk berbagi rasa. Namun tania tak mau melanjutka perassan lebih dari satu tahun. Saat ia meranjak ke kekelas 2SMA ia memilih untuk belajar tanpa ada penghalang, ditambah dari sisi andre yang akan meninggalkan Tania untuk dua tahun dan menempuh kuliahnya di Australi, lebih baik mereka tak melanjutkan perasaaan itu salah satu jalan yang lebih baik.
“ Tania, aku memang berharap kamu ada disini karena aku ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin kamu egak tahun sejak kamu jadi cewek aku dulu. Karna aku tak mau membuat kamu merasa kalau aku adalah cowok yang terlalu memuja cewek, tapi kenyataannya memang aku selalu berkomitment kalau aku hanya mencintai seorang cewek dalam hidup aku. Itu sebabnya aku baru bisa menyukain cewek saat aku sudah berumur 17dan cewek yang aku cintai itu kamu Tania..”
“andree..” andre medekatiku dan mencoba membuatku tersenyum dengan senyum yang sering sekali membuat aku salah tingkah, meskipun andre bekas cowokku. aku sendiri tak dapat meneruskan perkataanku yang ingin kuucapkan. Seakan, seluruh tubuhku kaku dan tak dapat ku control
“tania..” andre memegang kedua tanganku dengan lembutnya, teringat disaat aku dan dia saat duduk di bangku SMA, kita berdua sering sering sekali bergandeng tangan tapi ada hal yang tidak kami lakukan yaitu berciuman. Sungguh aneh, tapi andre berjanji kalau ia akan selalu bertahan untuk tidak melakukan lebih dari hal itu, dan akupun sangat setuju. Keliatan tidak mesra?? Mungkin dan pastinya sangat tidak up to date lagi, tapi itulah yang kita putuskan dalam hubungan yang bisa dikatakan tak menentu.
“aku sangat berharap kalau kamu bisa kembali lagi dengan aku seperti dulu lagi..” andre melangkah lebih dekat lagi kearah ku sehingga aku dapat menciumm bau masculine dari tubuhnya, aku tak tahan dengan kedekatan kami berdua, aku mengambil selangkah menjauhi dirinnya.
“andre, seandainya waktu tidak terus berputar aku pasti memilih untuk tetap bersama dengan kamu dan dari dalam hatiku aku masih ingin memegam tangan kamu seperti dulu lagi, tapi sayangnya aku tak dapat melakukannya andre. aku tak ingin melukai hati kamu ndre..” suaraku yang bergetar dengan genangan airmata disudut mataku, mungkin akan jatuh dan membasahi pipiku tapi mungkin tidak karena jemari andre menghapusnya dan tak membiarkannya mengalir dipipiku.
“andre..”seraya aku menurunkan tangannya yang menyetuh sebagian dari wajahku,
Mungkin tahun ini adalah tahun yang sangat beruntung buat aku karena aku bisa ketemu kamu sebelum aku….” kataku terputus karena aku tak mau andre tahu bahwa aku mengidap penyakit sikle-anemia yang akan merenggut hidupku dan kembali kepakuan yang maha kuasa,
“sebelum kamu apa tania??”
Aku menatap wajahnya yang begitu menggemaskan dan pipinya yang berisi, andrea memiliki criteria seorang cowok yang mirip dengan Mark penyanyi westlife. Seharusnya cowok seperti andre ini tak dapat melakukan hal yang terlalu romantis seperti saat ini yang aku sedang rasakan.
“sebelum aku ninggalin kamu buat selamanya andre sayang..” aku mengucapkannya dengan senyumku yang mengartikan bahwa aku tak takut dengan kematian itu, penyakit ini telah kuidap sejak aku lahir, tapi Tuhan memberiku waktu untuk menikmati hidup ini dan memberikan kedamaian dalam keluargaku. Mungkin memang sampai situlah perjalan hidup ku and I don’t want to ask another live to life on.
Andre hanya terpaku tanpa sadar kata-kata yang baru saja kulanturakan seperti petir yang menyabar ditengahh-tengah badai.dia tak mengucapakan satu kata patah pun dari mulutnya melainkan dia hanya menarik tubuhku dan memeluknya. Pelukannya yang ku dapat dari seseorang yang sangat aku cintain namun tak dapat ku miliki, pelukannya yang sangat berarti dalam hidupku sampai akupun tak mau melepasnya, aku hanya ingin memeluknya dengan erat sampai kematian itu dan malaikat-malaikatku menjemputku dengan kedamaian.
“andre badan aku sakit kamu peluk terlalu keras..” celetukku dengan lembut ditelinganya. Andre yang kutahu adalah lelaki yang kuat berubah menjadi lelaki yang sangat lunak, hingga airmata pun dapt terjatuh diwajahnya. Aku tersenyum dengan sejuta alasan
“andre, kamu tahu gk aku Cuma ingin satu hal dari kamu,. Aku hanya ingin kamu jadi seorang kakak buat aku yang akan menjaga aku sampai waktunya aku harus pergi”
Mungkin hanya seorang anak kecil yang lugu yang mengatakan itu tapi ditengah-tengah ketidakinginan untuk melepas seseorang. Tapi aku harus melakukan sesuatu untuk membuat suasana lebih ceria kembali.
“aku akan melakukan apa aja untuk kamu Tania, aku tak akan membiarkan kamu sendiri dalam kesedihan kamu..” andre memegam kedua tanganku dengan erat seakan ia tak akan mau melepaskannya.
“promise??” seruku dengan manja
“I promise tania” ia membisikkannya ditelinga ku dan membelai wajahku dengan lembut. Daun-daun yang berjatuhan diudara seakan menggambarkan bahwa ini adalah hari yang terindah untukku, dan alam pun memberikan tanda keperduliannya untuk ku dengan membiarkan daun-daun berguguran, menjadi kenangan musim gugurku sebelum ku menutup mata selamanya.
By, Adeline.karen.Manurung